waktu bagaikan nafas, ia takkan kembali Photo by Mike from Pexels

Keberkahan Waktu

Saya heran melihat orang yang sangat cemerlang dalam karir, dan sukses di akhir pekan sebagai pengusaha, ditambah bisa menjadi ayah yang baik dalam keluarga, dan rutin menjalankan amal ibadah mendalami ilmu agama. Kok bisa dia menjalani berbagai peran sekaligus? salah satu jawabannya adalah "Keberkahan waktu"

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran.” (QS. Al-`Ashr: 1-3)

Allah Ta’ala beberapa kali bersumpah dalam Al-Quran dengan menggunakan keterangan waktu. Misalnya “wal-ashri” (demi masa), “wad-dhuha” (demi waktu dhuha), “wal-lail” (demi waktu malam) dan lain-lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa waktu ini sangatlah penting, bagaikan nafas yang tak mungkin kembali, dan kita harus menyadari betul hal ini, sedangkan manusia secara umum lalai akan hal ini.

Akhir-akhir ini saya sangat tertarik mendalami ilmu tentang waktu, karena faktanya semua orang mendapatkan jatah waktu yang sama 24 jam sehari, dan 7 hari seminggu, tetapi kok bisa aja ada orang yang super produktif? karena waktu adalah modal yang sangat berharga, ia dimiliki oleh semua orang yang hidup, kita tidak bisa merebut waktu orang lain untuk ditambahkan ketika kita merasa waktu 24 jam sehari kurang, modal waktu ini seringkali kita hamburkan untuk hal-hal yang tidak (kurang) ada manfaatnya, baik manfaat untuk kehidupan dunia ataupun kehidupan kelak di akhirat.

Photo by Jordan Benton from Pexels

Kita seringkali menggerutu karena kurang nya waktu untuk mengerjakan sesuatu, padahal sebelumnya tak terasa kita menghabiskan waktu untuk main game, menonton video di youtube, serial di netflix, bercanda dengan kawan lama di facebook, atau ngobrol ngalor-ngidul di group whatsapp yang berderet, waktu 24 jam sehari terkadang kurang, bahkan hanya untuk sekedar beristirahat dengan cukup barang sejenak.   

Pada contoh yang saya paparkan di awal, adalah contoh orang yang berhasil memanfaatkan waktu yang dimilikinya seoptimal mungkin sehingga bisa memberikan dampak maksimal bagi kehidupannya. Kuncinya adalah prioritas: kebijaksanaan kita mengalokasikan waktu, hal-hal apa saja yang layak untuk kita mencurahkan waktu.

Oleh karena itu, manfaatkanlah modal waktu kita untuk hal-hal yang bermanfaat, dan selalu kita memohon kepada Allah 'Azza wa Jalla untuk memberikan kita keberkahan dalam memanfaatkan karunia waktu yang diberikan, dan menjauhkan kita dari perbuatan yang sia-sia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda


نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412)

Hendaknya kita mengisi waktu kita dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat, tugas kita sangat banyak sedangkan waktu ini sangat sedikit, tidak layak bagi seorang muslim menghabiskan waktu yang sangat berharga dengan bermain hal sia-sia yang tidak bermanfaat.

This article was updated on 26 Mei 2019

Comments