Photo by Pixabay, source: pexels.com

Kerangka Kerja Scrum dalam Keseharian Muslim

Bismillah,

Ramadhan 1440 H akan segera berakhir, petang tadi pun sudah diputuskan oleh pemerintah bahwa 1 syawal akan jatuh pada esok lusa. Malam-malam kemarin saya sempat merenungi satu hal, tentang bagaimana kita memanfaatkan waktu sebagai modal berharga yang kita miliki untuk ditukar dengan hal-hal lain. Bisa saja kita habiskan waktu untuk hal sia-sia, karena kita merasa waktu kita melimpah, toh esok kan masih ada, tapi benarkah seperti itu? tentu saja tidak, siapa yang bisa menjamin esok kita masih memiliki umur. Maka dari itu kiranya kita perlu memikirkan strategi bagaimana memanfaatkan sumber daya waktu yang sangat terbatas ini, karena waktu adalah modal awal, dia belum menjadi uang sampai dengan kita menukarkannya untuk hal berharga.

Diperjalanan pulang kantor, Jakarta-Bekasi saya terfikir dengan pemanfaatan Scrum tidak hanya dalam project life cycle tapi bisa pula sebagai kerangka kerja kehidupan sehari-hari sehingga bisa menghabiskan waktu dengan lebih efisien, khususnya bagi seorang muslim. Oia sebagai sangkalan (disclaimer), saya bukanlah seorang scrum master, atau seorang yang paham betul soal agama islam, saya hanya praktisi keduanya dan saya melihat beberapa kemiripan diantara keduanya.


Durasi Sprint

Sprint dalam scrum adalah batasan (durasi) waktu pengerjaan suatu fitur (proyek) sampai hasil pekerjaan itu dirasakan value sesungguhnya bagi pengguna, durasi waktu sprint ini umumnya pendek sekali untuk ukuran pengerjaan proyek, sekitar 2 minggu sampai dengan maksimal 30 hari kalender dan tidak ada batasan minimum tergantung dari seberapa besar komitmen yang diambil oleh tim pengembang, dan ini dilakukan secara berulang dengan berkesinambungan (iterasi).

Dalam kehidupan muslim, iterasi ini bisa jadi lebih pendek lagi, yaitu satu hari saja (24 jam), mengingat salah satu ucapan baginda Nabi Muhammad SAW bahwa kita harus meningkatkan diri dari hari ke hari, yang sesuai dengan output sprint untuk meningkatkan value setiap iterasi:

Barangsiapa yang dua harinya (hari ini dan kemarin) sama maka ia telah merugi, barangsiapa yang harinya lebih jelek dari hari sebelumnya, maka ia tergolong orang-orang yang terlaknat.

Maka dari itu sangat relevan ketika fase sprint ini kita harus berlari kencang dengan jarak pendek dengan tujuan hari ini kita yang harus menjadi lebih baik lagi (dari sisi ibadah, ilmu, dsb) dari hari kemarin


Sprint Planning

Ini adalah ceremony dua pekan yang biasanya saya lakukan bersama rekan kerja ketika akan memulai sebuah sprint , tujuan utama dilakukan sprint planning adalah menjawab pertanyaan: Apa yang harus diselesaikan selama sprint nanti? lalu Bagaimana cara kita menyelesaikan hal tersebut?

Karena dalam kalender islam, pergantian hari bukan terjadi pada pukul 00.00 tetapi waktu setelah matahari terbenam (magrib) lah yang menjadi acuan batasan hari karena kalender hijriyah menggunakan peredaran bulan sebagai acuan (sumber: wikipedia), maka dari itu kita akan mulai merencanakan sprint pada waktu malam, sebelum tidur kita harus membuat target harian apa yang bisa kita kerjakan dalam rangka mengerjakan ibadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala (product vision = beriman dan taqwa pada Alloh SWT).

Contoh backlog ibadah yang saya buat adalah seperti:

  • Sebagai seorang laki-laki, saya harus bisa sholat tepat waktu secara berjamaah di masjid
  • Hari ini saya melakukan dzikir pagi dan petang
  • Saya tidak langsung mencari/mengunakan handphone ketika bangun tidur setiap pagi 
  • Sebagai seorang ayah, saya menghabiskan waktu luang dengan bercengkrama bersama keluarga setidaknya selama tiga jam setiap hari
  • Sebagai seorang anak, dan saudara, Saya sering menghubungi keluarga jauh dan menjaga silaturahmi dengan mereka, setidaknya dengan pecakapan selama 4 menit atau sampai 10 kali bilang alhamdulillah

Daily Scrum

Pada kegiatan daily scrum di kantor, rekan satu tim akan memberi informasi apa saja pekerjaan yang sedang mereka lakukan, biasanya ada formula baku untuk menjawab pertanyaan:

  1. Apa yang sudah saya lakukan kemarin?
  2. Apa yang akan saya kerjakan hari ini?
  3. Apa yang menjadi hambatan saya menyelesaikan tugas/pekerjaan itu?

Karena panjang sprint satu hari, maka daily scrum itu saya ubah menjadi 5 kali sehari, yaitu ketika setelah waktu shalat, kita akan melakukan daily scrum dengan berbicara kepada diri sendiri dan tentu disaksikan oleh malaikan dan didengar oleh Alloh As Samii' yang maha mendengar setiap suara di muka bumi baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

Pertanyaan yang harus dijawab, kurang lebih mirip seperti daily scrum, namun saya memodifikasinya, seperti

  1. Amal ibadah seperti apa yang berhasil saya lakukan dari waktu solat sebelumnya hingga saat ini?
  2. Adakah dosa yang telah diperbuat dan saya ketahui? mohonlah ampun kepadaNya dengan beristigfar
  3. Apakah alasan saya ketika tidak mampu mengerjakan ibadah/amal baik?

Sprint review dan Retrospective

Biasanya ini terjadi diakhir sprint, untuk melihat apa yang sudah dikerjakan ke belakang dan apakah kita mempelajari sesuatu darinya sehingga bisa menjadi ide perbaikan di kemudian hari (next sprint), dan kita bisa melihat increment product yang telah dicapai selama sprint berlangsung ke dalam value keseluruhan dari pencapaian sprint sebelumnya.

Hal diatas mirip betul dengan kegiatan "muhasabah", secara etimologis berasal dari kata hisab, yaitu melakukan perhitungan (evaluasi diri), kita lakukan evaluasi apa yang terjadi hari itu, meliputi hubungan seorang hamba (manusia) dengan Alloh SWT, maupun hubungan sesama makhluk ciptaanNya (sesama manusia, dan secara umum seperti dengan tumbuhan, hewan, air, udara, benda lainya).

sehingga kita bisa mengenal diri lebih baik, menjadi pribadi yang lebih baik, mengetahui kelemahan serta aib diri sendiri dan segera bertaubat memohon ampunan, dan apakah kita sudah bijak dalam mengalokasikan waktu dengan seimbang untuk peran kita sebagai suami, ayah, anak, kakak, tetangga, karyawan, dan lain sebagainya.

Proses ini dilakukan di malam hari, sebelum mulai merencanakan target esok hari (sprint planning), ataupun bisa dilakukan selama perjalanan pulang kantor, daripada melihat seliweran kendaraan toh :)


Product Backlog

Oia satu lagi yang terlewat, product backlog adalah seluruh daftar pekerjaan yang ada dan dibutuhkan untuk kelangsungan hidup produknya, pekerjaan-pekerjaan ini bergerak searah dengan tujuan dari product vision nya.

Sengaja saya taruh ini di bagian akhir, sebagai PR pula bagi kita semua untuk merenunginya, karena saya sendiri merasakan tidak mudah untuk menjawabnya, jadi dalam membuat product backlog kehidupan muslim harap dipertimbangkan untuk meliputi pertanyaan sebagai berikut (diambil dari artikel sebelumnya, oleh Ust. Dr. Imam Zamroji, MA):

  1. Amalan Hablumminallah apa yang ingin anda dan keluarga lakukan untuk kesuksesan dunia, alam kubur dan akhirat?
  2. Apa Alasan yang membuat anda dan keluarga ingin melakukan amalan di atas?
  3. Bagaimana kondisi anda dan keluarga sekarang? yang bisa diukur sebagai indikasi
  4. Apa saja target-target yang ingin anda dan keluarga capai? terukur dan ambisisus)
  5. Bagaimana Langkah Kongkrit dan detail yang perlu anda dan keluarga lakukan untuk mencapaj target tersebut?
  6. Apa saja sumberdaya pendukung yang anda dan keluarga perlukan untuk mencapai target tersebut
  7. Evaluasi : Bagaimana dan seberapa sering anda akan memonitor perkembangan anda dan keluarga, agar tahu adanya perkembangan dan pencapaian pada diri anda dan keluarga.

Penutup

Hal yang saya tulis diatas pun belum saya lakukan secara konsisten, pasang surut semangat kadang ada saja, mohon doa nya agar saya, anda dan seluruh muslim di dunia bisa memanfaatkan waktunya dengan baik, serta mendapatkan keberkahan waktu sehingga bisa menggunakannya untuk hal baik dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Alloh yang maha pengasih lagi maha penyayang :)

Oia, terkait dengan keberkahan waktu, ada satu video bagus dari Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri untuk kita tonton dan kita bagikan:

This article was updated on 4 Jun 2019

Comments