Foto oleh RODNAE Productions dari Pexels

Membentuk Pola Pikir Entrepreneurship dalam Bekerja Sebagai Karyawan

"Your job is NOT your carrer" adalah sebuah kalimat intisari dari diskusi perpisahan dengan manager saya di akhir bulan Oktober lalu, dan kalimat ini masih saja bergema di fikiran saya hingga sekarang dan memicu beberapa perenungan yang akan saya tuliskan disini untuk melepas unek-unek mengganjal ini.

Foto oleh RODNAE Productions dari Pexels
Foto oleh RODNAE Productions dari Pexels

 



Sabagai pendahuluan, awal mulanya saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada dia, "Why resign now, in time where the company is about to IPO?", yup mungkin terdengar materialistis, dan saya menduga jawaban dia akan mengarah ke tawaran perusahaan lain jauh lebih seksi, seperti kenaikan gaji yang signifikan ataupun tawaran RSU yang lebih bernilai. Tapi ternyata tidak!

Dia menjawab bahwa perusahaan nanti akan menarik, karena disana akan mengakselerasi pencapaian goal karir dia secara profesional, ia menegaskan bukan berarti perusahaan sekarang ini jelek, tetapi dia menemukan kapal yang lebih cepat dalam melaju. "Your job is not your carrier" ujarnya, selanjutnya dibungkus dengan jawaban klise dan politis, nah disini saya tertarik dengan argumen dia, sedikit takjub dengan idealisme yang dia pegang, atau mungkin sugar coating yang menarik jika ujung ujung nya hanya faktor finansial saja ahaha, tapi mari kita kembalikan fokus pada kutipan tadi ya.



Kemudian saya teringat dengan pesan dari sebuah buku yang saya baca tempo lalu, mungkin pada saat itu saya mengingatnya hanya sebuah pengetahuan saja, namun kini mulai terlihat keterkaitannya, karena sangat relevan dengan apa yang dimaksud, bahwa:

kita seharusnya tidak berfikir bahwa kita bekerja ke perusahaan hanya sebagai karyawan yang menjalankan tugas dan kewajiban dan mendapatkan ganjaran gaji bulanan saja, melainkan kita harus memiliki mental entrepreneurship, dimana kita memperlakukan karir kita sebagai sebuah bisnis, dan kita harus memikirkan produk/jasa, marketing, bahkan finance-nya.

Jangan mau dibohongi oleh status "pekerja swasta" yang tugasnya hanya mengerjakan tugas yang diberikan, dan mendapatkan gaji rutin bulanan. Mulai sekarang mulailah berfikir bahwa karir kamu sebagai bisnis yang kita rinitis, sebuah perusahaan dan kita sebagai CEO nya, sehingga setiap keputusan yang kamu buat bisa berdampak pada kemajuan perusahaan kamu ini, dan anggaplah client perusahaan ini adalah perusahaan dimana kamu bekerja saat ini, ataupun skala lebih intinya, customer kamu adalah rekan kerja kamu, mereka yang mendapatkan value yang kamu berikan.

Bagaimana cara mengembangkan bisnis perushaan?

Mari kita lanjutkan lebih jauh setelah kita paham bahwa karir kita adalah sebuah bisnis dan bagaimana membuat perusahaan ini menjadi sukses makmur.

Pertama, layaknya sebuah perusahaan, ia harus memiliki suatu produk atau jasa yang ditawarkan kepada client, karena hanya dengan hal ini perusahaan bisa menghasilkan uang. Pikirkan apa yang perusahaan karir kamu ini bisa jual? apakah suatu barang atau jasa? ambilah contoh karir saya sebagai software developer, produk perusahaan "karir" saya adalah "paket membuat website", atau secara sederhananya yang bisa saya jual adalah jasa untuk membuat sebuah gagasan menjadi produk digital berupa website.

Sebuah bisnis tentu akan terus menerus mengembangkan produknya menjadi lebih baik, lebih beragam, dan karir kita pun harus seperti itu, contoh produk membuat website tadi misalkan, kita bisa menawarkan produk lain nya yang mendukung seperti TDD (test driven development) sehingga website yang dihasilkan lebih teruji dan berkualitas misalkan, dan salah satu tugas kita pula untuk memasarkan produk ini, kelebihannya dibanding kompetitor, yup kita pun harus bisa menjadi marketing perusahaan (diri) kita sendiri, memiliki produk yang bagus saja belumlah cukup, kita harus bisa meyakinkan klien bahwa produk kita memiliki kualitas yang baik toh, semakin baik kita memasarkan produk kita semakin tinggi keuntungan yang bisa kita dapatkan, bahkan semakin banyak potensial kustomer yang bisa kita peroleh.

Bekerja melebihi harapan pelanggan

Adalah kunci untuk menjadi yang terdepan, pelanggan kita tidak melulu hanya si perusahaan tempat kita bekerja, rekan kerja kita sebenarnya adalah pelanggan kita, merekalah yang mendapatkan value yang kita berikan.

Angaplah hubungan di kantor IT adalah hubungan transaksional. Seorang Developer pelanggan nya adalah QA, PM bahkan IT ops. Bagaimana si Developer ini bisa melebihi harapan pelanggan nya? adalah dengan mengetahui keinginan si pelanggan, misal Dev-QA, si developer tentu harus membuat aplikasi dengan kualitas yang baik, dia sendiri pun harus menguji aplikasi yang dia buat dengan teliti, agar dia bisa segera menemukan error dan memperbaiki dengan cepat, sehingga ketika aplikasi di uji oleh seorang QA, maka error sepele tidak lagi ada, dan meringankan kerja QA, atau contoh lain bagi seorang developer adalah membuat code yang baik atau bahkan membuat dokumentasi dari kode yang ia tulis agar di masa depan developer lain yang melanjutkan tidak akan kebingungan atau mengutuk dia dan malah merewrite aplikasi ke kode baru :D

Foto oleh RODNAE Productions dari Pexels
Foto oleh RODNAE Productions dari Pexels

Selanjutnya

Layaknya bisnis, ada banyak faktor yang harus diperhatikan selain hanya produk, seperti tadi sudah disingung mengenai marketing, perusahaan di dunia nyata pun kalau kita lihat banyak menghabiskan biaya untuk iklan kan produk mereka, sebagai software developer kitapun harus bisa "menjual diri" kita ke customer agar layak mendapatkan imbalan yang tinggi.

Contoh marketing yang biasa ditempuh oleh software developer seperti memberikan sharing session, aktif di komunitas, membuat open source, membuat konten di sosial media (instagram, youtube, podcast, ataupun blog/medium).

Lalu setelah memperoleh income, perusahaan pun harus pandai mengelola uang, divisi finance memegang peranan krusial dalam keberlangsungan perusahaan, kita harus pandai-pandai mengelola aliran uang masuk, khususnya jika kita sebagai pekerja lepas (freelance) dimana penghasilan bisa tak menentu, ataupun jika kamu karyawan bergaji tinggi harus juga mulai melek investasi sehingga bisa membuat portofolio aset untuk masa depan, minimal bisa menjaga kekayaan kita di masa depan (menghindari inflasi) atau bahkan menjadi passive income yang akan memenuhi kebutuhan kita nanti, karena sebesar apapun pendapatan apabila tidak bisa mengelola pengeluaran yang baik serupa ember bolong-bolong, sebanyak apapun air yang kamu isi, kemudian akan bocor juga dan habis suatu saat. Sederhananya, ember boleh saja bolong, tapi pastikan ada banyak keran yang mengisi toh

Pekerjaanmu bukanlah karirmu

Kembali ke kasus manajer saya tadi, dia tak takut kehilangan potensi keuntungan dan berani mengambil risiko di pekerjaan baru, karena dia tahu keputusan nya pindah pekerjaan akan mengakselerasi karir dia ke depannya.

Jadi, kita tak perlu setia pada perusahaan dimana kita bekerja, karena kita adalah CEO di perusahaan "karir" kita sendiri.

Bahkan jika dipikirkan kembali, semua pekerjaan pun bisa menerapkan pola pikir entrepreneurship ini, bukan bekerja tapi berkarya, maka dari itu kita kenal istilah karyawan, orang yang berkarya, sekalipun pekerjaan sebagai tukang Vermak lepis keliling, yang mungkin produk utamanya adalah memotong levis customer, namun jika mau meningkatkan layanan produknya, bisa saja dia berinovasi dari sisi marketing jasanya nya ini, misalnya dengan menuliskan akun sosial media di "grobak" nya dia, atau memberikan kartu nama, sehingga bisa "menjemput rejeki" ketika pelanggan perlu vermak, maka dia akan menghubungi dia, daripada mengandalkan luasnya cakupan keliling untuk meningkatkan probabilitas bertemu pelanggan yang membutuhkan jasanya.

Baiklah, sekarang sudah percaya karirmu adalah perusahaanmu? seberapa siap kah kamu memimpin perusahaan "Karir" kamu ini?

This article was updated on 7 Nov 2021

Comments